Menjaga Marwah Kebangsaan di Kampus Era Cuva

Oleh
Prof. H. Singgih Tri Sulistiyono

(Edisi Nuansa Persada, XXI/ Juni 2019 hal 58-59)

Selama beberapa dekadae terakhir ini, isu merosotnya rasa kebangsaan atau nasionalisme dan cinta tanah air sempat mengkhawatirkan berbagai pihak khususnya para generasi yang sempat mengalami dan menyaksikan hiruk pikuknya perjuangan politik perjuangan politik dan berserjata melawan kekuatan penjajah asing baik Belanda, Jepang,maupun tentara Sekutu.

Kemerosotan semangat nasionalisame yang pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas kehidupan bersama sebagai suatu bangsa yang dikeluhkan oleh berbagai kalangan terutama kalangan generasi tua sebetulnya sudah muncul sejak tahun 1980-an pemerintah Orde Baru berkuasa. Berbagai sinyalemen adanya ‘merosot nasionalisme dan patriotisme”, “merosotnya sikap kepahlawanan”, ataupun “merosotnya kesadaran berbangsa” pada waktu itu sudah mengkhawatirkan banyak pihak. Saat itu kondisinya sangat ironis dengan mengingat bahwa kekhawatiran stb muncul di tengah-tengah upaya pada waktu pada waktu ditu sedang menggalakkan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sedang gencar menginplementasikan mata pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dan dalam kondisi perekonomian yang mengalami pertumbuhan yang relatif baik.

Pada saat ini, ketika Indonesia mendapatkan tekanan ganda baik yang bersumber dari dinamika internal maupun tekanan eksternal, oleh banyak kalangan semangat nasionalisme dirasakan semakin merosot. Dinamika internal yang sangat berpengaruh terhadap distorsi rasa nasionalisme adalah semangat merebaknya semnagat otonomi daerah kepentingan daerah atau lokal lebih tinggi daripada kepentingan nasional. Seringkali kepentingan nasional dikorbankan hanya untuk kepentingan daerah. Demikian juga praktiik demokrasi yang berlebihan mengarah kepada anarkisme dan komersialme suara rakyat serta mainstreming SARA dan kepentingan sesaat juga semakin menipis nasionalisme dan patriotisme. Yang lebih memprihatinkan jika hal merasuk ke dunia universitas sebagai benteng terakhir pemertahanan keindonesiaan. Jika gelaja-gejala semacam ini maka tidak mustahil negara Indonesia mengalami pembusukan. Persoalan-persoalan itu benar-benar dialami oleh perjalanan sejarah dan belum sepenuhnya diatasi. Sejak awal berdiri, Republik Indonesia harus berhadapan dengan persoolana internal seperti pemberotakan komunis, DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), RMS (Republik Maluku Selatan), PRRI/Permesta (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta), GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan terakhir ini masih eksis adalah GPM (Gerakan Papua Merdeka). Konflik-konflik semacam itu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sekaligus mencerminkan masih belum tuntasnya persoalan distegrasi bangsa. Apapun alasannya, konflik-konflik itu berpotensi menghancurkan integrasi bangsa yang merupakan cermin kualitas nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia.

Tekanan eksternal yang menjadi sumber degradasi semangat nasionalisme bersumber dari proses globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang berbasis nir-kabel yang menegasi batas-batas politik negara. Globalisasi melalui teknologi informasi telah memungkinkan masuknya berbagai paham dan cara berpikir asing yang tidak mustahil bertentangan dengan semangat nasionalisme Indonesia, seperti wacana “the end of national state” (berakhirnya negara bangsa), sistem pemerintahan global yang berbasis agama, terorisme, memperlemah eksistensi negara bangsa Indonesia jika tidak diantisipasi dengan baik.

Dalam konteks ini perguruan tinggi sebagai salah satu “mercusuar” bangsa seharusnya menjadi benteng terakhir untuk menjaga marwah kebangsaan. Lalu bagaimana peran perguruan tinggi sebagai benteng Pancasila dan pengawal NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), mampukah perguruan tinggi mengemban amanah itu? Dengan cara apa dan bagaimana perguruan tinggi bisa merealisasikan dirinya untuk menjaga marwah kebangsaan di era VUCA ini?

Dalam Belitan Era VUCA
Para ahli sosial polisitik menyebut zaman sekarang ini sebagai era VUCA. Perubahan berjalan begitu cepat sementara era distruksi belum sepuhnya dipahami dan diantisipasi dengan baik sudah disusul dengan baru yang lebih komples yaitu era UCA yang mengacu kepada keadaan yang penuh gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainly), rumit (complexity), dan serba kabur (ambiguity).

Konsep VUCA sebetulnya sudah diintroduksi sejak tahun 1987 di AS untuk menggambarkan situasi penuh ketidakpastian menyusul mulai berakhir Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Selanjutnya ketika situasi Perang Dingin ini sudah bis dipahami dengan baik, sejak 2002, konsep VUCA ini dikembangkan untuk mengkaji kepepeimpinan strategis dalam rangka menghadapi situasi global yang penuh gejolk ketidakpastian. Pengembangan konsep kepemimpinan stretegis semakin penting ketika gelombang globalisasi dan revolusi teknologi berjalan begitu cepat sehingga menimbulkan dampak yang mengejulkan bagi masyarakat dari apa yang pernah terjadi pada masa Perang Dingin. Bahkan dampak itu seringkali di luar prediksi para pakar dan futusis.Perubahan ini berjalan makin cepat dengan revolusi teknologi 4.0 terutama di bidang teknologi komunikasi berbasisi digltal. Dari revolusi ini lahirlah adanya otomatisasi, robotisasi, dan pengembangan artficial intelligence (AI) dimana manusia sedang mengembangkan robot berbasis komputer yang diproyeksikan mampu menggungguli kemampuan manusia.

Dampak dari fenomena era disrupsi dan VUCA ini telah menjungkirbalikkan kehidupan masyarakat tidak hanya di bidang kehidupan sosial budaya namun ekonomi dan politik. Tatanan lama yang mempolakan perilaku hubungan antar individu dan antara individu dengan kelompok serta antar kelompok , termasuk antara bangsa mengalami perubahan yang drastis. Termasuk dinataranya hubungan antara anak dan orang tua, antara generasi muda dengan generasi pendahulunya mengalami perubahan yag mendasar. Seringkali apa yang pernah diidealkan oleh generasi terdahulu tak lagi menjadi idola generasi kekinian. Pemikiran dan ide orang tua dipandang jadul oleh generasi “zaman now” yang memang memiliki tantangan yang berbeda.

Demikian juga beberapa waktu muncul artikel yang menggegerkan dunia pendidikan yang bertemakan “bunuh diri massal” perguruan tinggi (PT) di era disrupsi. Hal ini terjadi bukan karena kemajuan dan perubahan yang cepat yang bersumber dari kemajuan IT namun persoalan essensialnya justru kerana PT tidak lagi mampu menjadi sumber perubahan dan kemajuan.Bahkan sebaliknya PT telah bersikap reaktif terhadap kemajuan atau bahkan sering menempatkan dirinya sebagau subyek yang selalu mengejar ketertinggalan dari dunia industri yang ada di luarnya. Dalam konteks ini bisa dipahami jika PT merasa kebakaran jenggot ketika google mengumumkan akan merekrut tenaga kerja ahli meskipun tanpa ijasah dari PT mana pun. Demikian jika berbicara PT dengan cakupan geogafisnya tidak bisa dibatasi sesuai batas negara, namun sudah sangat kental dengan dunia yang mengglobal. Seolah-olah nasionalisme tidak lagi menjadi perbincangan yang utama.

Marwah Kebangsaan dan peran PT
Pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang mengecilkan arti batas-batas negara sangat dipengaruhi oleh pemertahanan kebangsaan. Hal itu antara lain bis dilihat dari masuknya ideologi, gaya hidup, cara berpikir asing bisa melunturkan marwah kebangsaan kita. Kemudahan transaksi online lintas negara akan menggerus nasionalisme ekonomi. Para konsumen online shopping yang bisa terdiri kaum muda akan lebih tergiur dengan barang-barang branded dari luar negeri. Bagi mereka yang penting adalah lebih bergengsi dengan kualitas yang lebih baik dan kalau bisa harga lebih murah. Kemudan akses dengan luar negeri di satu sisi dan kehdirian hegara kurang intensf dalam kehidupan generasi muda menyebabkan marwah kebangsaan dalam wacana kehidupan mereka tidak penting lagi.

Di persfektif kebudayaan barangkali bisa dijelaskan bahwa sebuah kebudayaan masih akan berlaku hidup berkelanjutan jika masih dibutuhkan oleh masyarakat pendukungnya dalam menghadapi tantangan kehidupan yang dinamis dan terus mengalami perubahan. Pertanyaannya apakah generasi muda atau generasi mileneal ini masih membutuhkan nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme di tengah-tengah skpansi globalisasi dan internasionalisasi? Jika negara abai terhadap hal inimaka jangan salahkan apabila generasi muda mengalami degradasi rasa kebangsaan. Mungkin gererasi muda semakin tidak merasa kehadiran negara melalui institusinya terutama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kemrisdikti yang paling bertanggung jawab. PT sebagai bagian dari aparatur negara yang merupakan salah satu ujung tombak paling menentukan.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh PT dalam rangka menjaga marwah kebangsaan. Pertama-tama adalah keteladanan pemimpin PT itu sendiri yang harus bisa membawa dan mengimplemetasikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara dan nilai-nilai kebangsaan, ucapan, dan perilaku yang natara lain bisa dilihat dari sikap amanah, jujur, berkeadilan (menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan aturan yang ada), transparan, akuntabel, saling menghargai, menjauhkan diri dari sikap bersifat SARA, dan sebagainya.

Kedua, perlu inovasi dalam paradigma, pendekatan, model, dan metode pembelajaran mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaan. Pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaan serta nilai-niai kebangsaan bukan hanya bersifat diseminasi dan sosialisasi saja tetapi perlu dikemas dalam proses enkulturasi atau pembudayaan yang menekankan kapada peran mahasiswa dalam mencari, menganalisis, dan mengambil simpulan sendiri. Selain itu perlu, perlu ada praktikum Pancasila dan sejarah, serta nilai-niai kebangsaan perlu dipikirkan.

Ketiga, perlu mata kuliah, atau setidaknya materi sejarah atau sejarah nasional yang diampu oleh dosen sejarahyang profesional yeng bertujuan memberikan pencerahan pemahaman tentang proses formasi bangsa Indonesia. Pembelajaran sejarah dengan lebih mengedepankan pada pendekatan intelektual training dan pencerahan rasional terhadap peristiwa masa lalu akan membangkitkan kesadaran sejarah bagi mahasiswa betapa pentingnya merawat dan melestarikan serta mengembangkan Indonesia sebagai rumah bersama bangsa Indonesia yang plural ini.

Penulis adalah guru besar Sejarah Maritim, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro dan Ketua DPW LDII Jawa Tengah