Legitimasi Kontributif

oleh Dr. Ir. H. Rathoyo Rasdan, MBA
Ketua DPP LDII/Dosen Pascasarjana
Dimuat di Majalah Nuansa Persada, XX/April 2019, hal 62

Di jaman yang semakin tidak menentu ini – dimana perubahan kegiatan sandat cepat dan dahsyat merambah hampir semua aspek kehidupan dan semua lapisan masyakat – Lembaga Dakwah Islam Indonesia – beruntung mempunyai tuntunan bagi warganya, yaitu untuk menjadi manusia yang profesional religus. Suatu keseimbangan anatara kehidupan dunia dan akhirat, hak individu dan bermasyarakat, serta aspek profesionalitas dan religius, sehingga mengetahui mana yang harus mengikuti perubahan jaman, dan mana yang harus bepegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran agama. Perubahan tersebut di atas semakin dipercepat dengan kehadiran internet yang memunculkan sesuatu periode yang sering disebut periode VUCA. Yang semuanya serba volatile (bergejolak), uncertain (tidak pasti), complex (rumit), dan ambigue (tidak jelas).

VUCA tidak hanya di sektor bisnis, tetapi merambah ke sektor lainnya termasuk dunia pendidikan (baik pendidikan umum maupun pendidikan agama) serta karie seseorang. Dengan slogan Profesionitas Religius, mampukah LDII ikut berselancar di arus perubahan/disrupsi tanpa kehilangan jati dirinya?

Sebelumnya memasuki diskusi sesuai tema di atas, ada baiknya dipelajari sejarah tentang munculnya disrupsi –terutama di dunia bisnis yang mengguncang dunia. Yang paling dikenal di kalangan akademisi adalah konsepnya Joseph Schumpeter (1942) tentang Creative Destruction sebagai karakteristik kewirausahaan. Seorang wirausaha sejati menyuguhkan kreativitasnya untuk mengubah cara-cara lama dalam berbisnis. Selanjutnya dalam buknya Innovator’s Dilemma Cristensen (1997) memaparkan beberapa prinsip untuk menghadapi perubahan zaman, salah satunya prinsip nomor 4 : ‘organisasi yang kuat harus bisa mendefnisikan kelemahannya’. Di dunia bisnis bisa dipelajari kasus jatuhnya kerajaan bisnis nokia , dan bisnis domestik bisa diambil contoh perusahaan taksi yang berguguran. Arus perubahan tersebut oleh Renald Khasali (2017) disebut sebagai era disrupsi yang bagi orang disebut fase kekacauan, karena pemain lama bertumbangan menghadapi cara-cara baru dalam berbisnis. Sebagian besar mereka memandang era disrupsi ini sebagai persoalan besar karena ketidaksiapan dalam menghadapinya. Padahal dibaik semua itu, ada peluang kesempatan perintisan bisnis baru dan pengembangan bisnis yang ada.

Itulah dampak era disrupsi terhadap dunia bisnis sekarang. Bagaimana dampaknya dengan kehidupannya yang lain? Terkait era disrupsi, Baischel & Novesel (2012) menulis buku yang menarik yaitu Disrupt or Be Disrupsi yang terjemahan bebasnya adalah Mengubah atau Diubah. Apapun pilihannya, kuncinya adalah Disruptive Mindset, yaitu pola pikir yang pro perubahan. Selanjutnya, pola pikir tsb harus dimiliki oleh para pemimpin, yang oleh Christian N. Ryan (2016) disebu Disruptive Leardership. Apapun itu kepemimpinan disruptif berikut secara singkat penjelasannya, Kepemimpinan disruptif muncul dari teori inovasi disrupsi yang dikembangkan oleh Cristensen (1997) sebagaimana di atas. Dalam buku tersebut diuraikan pengaruh teknologi yang mampu memproduksi barang dan jasa lebih sederhana, terjangkau, dan nyaman. Nah, dari kasus tersebut muncul pentingnya kepemimpinan disruptif, dengan ciri-ciri bahwa pemimpin tersebut harus dapat melihat permasalahan dalam permasalahn yang sulit, mau menerima kegagalan, dan mempunyai kesabaran yang tinggi dalam menghadapi perubahan besar sekalipun.

Prinsip inovasi dari kepemimpinan disruptif menjadi menarik karena menurut penemu istilah tersebut dapat diterapkan pada sistem dan pelayanan sosial. Bahkan dama pengantar definisi, istilah kepemimpinan disrupsi juga sangat cocok untuk kepemimpinan yang berbasis massa (comummunity based leadership), harus responsip terhadap kebutuhan komunitasnya, memperhatikan dengan seksama (mindful) terhadap tujuan, nilai-nilai, serta visi dan misi yang diembannya. Organisasi sosial kemasyarakatan (ormas) seperti LDII tidak terlepas dari pengaruh yang begitu cepat dan berpengaruh begitu dashyat seperti sekarang ini. Untuk itu harus dirumuskan beberapa peran tambahan/pembaruan bagi ormas baik untuk pimpinan maupun warganya.

Kembali kepada slogan Prosefional Religus, maka dua sisi perlu didiskusikan di sini. Yang pertama, profesionalitas. Dalam arti yang luas, profesionalitas dimaksudkan sebagai pekerjaan/karir, bisnis/usaha, pendidikan/profesi, dan lainnya yang terkait dengan penghidupan (masiyah). Sekedar merujuk pada periode VUCA, semuanya memang serba bergejolak, mengandung ketidakpastian, ada kerumitan di semua aspek, dan ketidakjelasan ujung pangkalnya. Semua warga LDII haus bisa mengantisipasi segala kemunginan yang terjadi dari sisi profesionalitasnya. Tawakal (usaha-doa-pasrah) adalah jawabannya, adapaun yang menjadi tujuan akhirnya (ultimate goal) adalah kebarokahan.

Yang kedua segi religius. Perlu diketahui bahwa beragama bukan hanya kewajiban, tetapi juga hak setiap insan Indonesia. Untuk itu warga LDII senantiasa berpegang teguh pada Sunnah dan Kitabullah dalam mengamalkan ajarannya agamanya, baik untu kepentingan individu, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Di akhir jaman ini –di mana kadang ada pendangkalan dan penyalahgunaan agama- warga LDII senantiasa berpegang teguh keimanan secara kuat sebagaimana kuatnya menggigit dengan gigi geraham. Apabila dua hal itu dipegang teguh, insya alloh, LDII akan mampu berselancar di arus perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Bravo: Pofesional Religus!!!